Showing posts with label Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Akhlak. Show all posts

Tuesday, July 20, 2021

Apakah Berobat Bertentangan dengan Tawakkal?

Per akhir tahun 2019 hingga saat ini (21/07/2021), dunia sedang dilanda wabah. Dinamakan wabah karena banyaknya orang yang terkena penyakit ini. Ketika sebuah penyakit sudah menjadi isu bagi banyak orang, maka opini mengenainya tentu menjadi banyak. Salah satunya adalah keterkaitannya terkait sikap beragama. Terdapat -dan banyak- narasi yang mengatakan bahwa kita cukup tawakkal (berserah) kepada Tuhan. Kalimat ini sering saya temui jika berbincang dengan penjaga warung di Cairo. "Bagaimana keadaan corona di Cairo saat ini?" "Tawakkal 'ala Allah."

Menjadi catatan tersendiri bahwasanya dunia pernah dilanda wabah beberapa kali. Buku-buku sejarah mengabadikannya. Bahkan, di zaman Kekhalifahan Umar bin Khattab, wabah pernah terjadi di Syam. Inilah salah satu cerita yang dituliskan Imam al-Ghazali dalam Ihya'-nya. Ia menulisnya di bagian kecil khusus berjudul: ar-radd 'ala man qala: "tarku al-tadawi afdholun bi kulli hal" (Bantahan atas perkataan: "meninggalkan pengobatan lebih utama bagi setiap orang di setiap kondisi") di bab mengenai tawakkal. Bagian ini menjadi menarik karena ia menggambarkan bahwa sejak berabad-abad yang lalu, narasi yang mempertentangkan antara usaha manusia (dalam konteks ini adalah berobat) dengan tawakkal sudah ada. Tambah serasi karena contoh yang diberikan sama-sama menggambarkan kondisi wabah. 

Pada bagian sebelumnya dari bagian kecil tersebut, al-Ghazali memang menjelaskan beberapa kondisi ketika "meninggalkan pengobatan" itu lebih baik bagi seseorang, namun itu belum akan dibahas saat ini.

Dalam menjawab bahwa "melakukan pengobatan" itu tidak bertentagan dengan tawakkal, al-Ghazali menjelaskan bahwa pengobatan merupakan bagian dari sunnatullah. Ketika kita haus, kita menghilangkannya dengan minum. Ketika kita lapar, kita menghilangkannya dengan makan. Tentu kita tidak berdiam diri dengan mengatakan bahwa kita sedang ber-tawakkal. Kita berusaha menghilangkan sesuatu dan tidak berdiam diri.

Ia -rahimahullah- mengutip kisah Umar bin Khattab -radhiyallahu 'anhu- ketika beliau ingin berangkat ke Syam. Gubernur Syam memberinya kabar bahwa sedang ada wabah tha'un di sana. Maka, Umar berunding dengan rombongannya apakah mereka akan melanjutkan perjalanan atau tidak. Diskusi mereka -yang terjadi berabad-abad lalu- amat persis dengan yang terjadi di abad ke-21 ini. 

Satu golongan mengatakan bahwa: "Kita tidak akan masuk ke daerah yang terdapat wabah di dalamnya dan membinasakan diri kita sendiri," golongan lain berkata: "Tidak, kita masuk dan ber-tawakkal kepada Allah. Kita tidak akan kabur dari takdir Allah." Kemudian mereka bertanya kepada Umar mengenai keputusannya.

Umar menjawab, "Kita tidak akan masuk ke daerah wabah," golongan yang menyelisihinya berkata, "Apakah kita akan kabur dari takdir Allah?" Umar menjawab, "Ya, kita kabur dari satu takdir ke takdir yang lain."

Kemudian, al-Ghazali juga menjelaskan, pengobatan itu bukan berarti merusak tawakkal dan keimanan kepada Allah. Ia merusak jika kita meyakini bahwa yang menyembuhkan kita dari sakit adalah obat tersebut, bukan Allah. Sama seperti ketika kita meyakini bahwa roti adalah zat yang mengenyangkan kita dan air yang melegakan dahaga kita, bukan Allah. Tentu, seorang mukmin meyakini bahwa Allah yang menjadikan roti sebab dari rasa kenyang, air sebab dari rasa segar, juga obat sebagai sebab kesembuhan. Ia juga bisa merusak ketika pengobatan tadi justru kita manfaatkan untuk menolong kita terus-terusan berbuat dosa, misalnya seseorang tahu bahwa jika ia sembuh, ia pasti akan korupsi, memfitnah. Di luar keadaan tersebut, al-Ghazali tidak mempertentangkan antara pengobatan dan tawakkal. Bahkan Rasulullah ﷺ melakukan bekam sebagai salah satu metode pengobatan.

Referensi: Ihyâ' Ulûm al-Dîn

Monday, May 3, 2021

Pengertian Nafs, Ruh, Qolb, dan 'Aql

Dalam  Al-Qur’an -atau Bahasa Arab secara umum-, kita akan menemukan beberapa kata yang menjadi objek dari begitu banyak kajian dalam ilmu mistik/kebatinan/tashawwuf, yakni kata nafs (نفس), ruh (روح), qolb (فلب), dan ‘aql (عقل).

Jika kita menerjemahkan semuanya, niscaya kita akan mendapatkan hasil yang masih membuat kening kita berkerut. Nafs bisa diartikan sebagai jiwa/nafsu, ruh diartikan sebagai ruh/esensi/jiwa, qolb diartikan sebagai heart, ‘aql diartikan sebagai akal.

Imam Al-Ghazali dalam satu bagian pada kitabnya, Ihya’ Ulûm al-Dîn, menjelaskan definisi masing-masing dari kata ini. Bagian tersebut adalah potongan dari bab kitabnya yang berjudul “Penjelasan Mengenai Keajaiban Qalb”. Al-Ghazali sendiri menyebutkan bahwa banyak orang yang tidak memahami makna dari kata-kata tersebut.

Qolb

Ia memiliki dua pengertian.

Pertama: Sebuah daging yang diletakkan di bagian kiri dada dan di bagian dalamnya berongga. Di dalam rongga tersebut terdapat darah berwarna hitam tempat bersumbernya ruh. Pengertian ini adalah pengertian dari sudut pandang kedokteran (tentunya kedokteran di zaman Al-Ghazali saat itu, yakni abad ke-11). Kita mengenalnya sebagai jantung/heart (yang orang sering salah artikan sebagai hati). Namun, bukanlah ini, definisi qalb yang dimaksud dalam teks-teks agama. Kita menyebutnya sebagai pengertian qalb secara fisik.

Kedua: Sebuah zat non-fisik (روحاني) dan bersifat halus serta sarat nilai ketuhanan (لطيفة ربانية روحانية). Zat non materi ini adalah hakikat dari seorang manusia. Ia adalah yang membuat manusia tahu, memahami. Ia juga objek dari perintah, teguran, tuntutan dari Tuhan.

Ruh

Ia memiliki dua pengertian.

Pertama: Organ yang halus yang bersumber di rongga qalb fisik (jantung). Ruh inilah yang diedarkan melalui pembuluh darah dan saraf-saraf kepada seluruh anggota badan. Aliran ruh ini kemudian membanjiri indera-indera kita layaknya cahaya lampu yang membanjiri seisi ruangan. Lagi-lagi, inilah definisi menurut ilmu kedokteran zaman itu dan ini bukan yang dimaksud dalam teks-teks agama. Ini adalah ruh secara fisik.

Kedua: Zat non-fisik yang halus yang membuat manusia mengetahui dan memahami. Ini memiliki pengertian yang sama dengan qalb dalam pengertian kedua. Ruh inilah yang Allah sebutkan dalam QS Al-Isra:85 ketika Rasulullah ditanya para sahabat mengenai ruh.

قل الروح من أمر ربي

Katakanlah (Wahai Muhammad): Ruh merupakan rahasia dari Tuhanku

Nafs

Ia memiliki dua pengertian.

Pertama: Zat yang mencakup kekuatan amarah dan syahwat (kesenangan)/nafsu. Pengertian ini mengaitkan nafs dengan hal-hal tercela. Bahwa nafs adalah sumber nafsu ketika kita ingin makan berlebihan, ingin membeli segala barang yang tidak kita butuhkan, dan sebagainya yang merupakan bagian dari syahwat.

Kedua: Zat non-fisik halus sebagaimana yang telah dijelaskan dalam pengertian qalb yang mana ia merupakan hakikat manusia. Dalam keadaan ketika kita mengendalikan nafs kita dalam melawan syahwat, lalu ia menjadi tenang, kita menyebutnya sebagai nafs al-muthmainnah.

‘Aql

‘Aql (akal) juga memiliki dua pengertian.

Pertama: Pengetahuan atas hakikat sesuatu. Pengetahuan ini merupakan sebuah sifat yang bertempat di qalb. Hal ini jadi catatan menarik tersendiri. Selama ini kita mengenal qalb sebatas sebagai pusat emosi, afeksi. Dalam pengertian Imam Al-Ghazali, qalb juga tempat akal, tempat memahami hakikat segala hal.

Kedua: Kemampuan untuk memahami hakikat sesuatu dan ia adalah qalb sebagaimana yang telah dijelaskan. Bisa dibilang, dalam pengertian pertama, akal merupakan pengetahuannya, hasilnya, sedangkan pengertian kedua, berbicara mengenai kemampuannya/kapasitasnya.

Kesimpulan

Al-Ghazali dalam bagian akhir bagian ini menyebutkan, bahwa dari semua pengertian tadi, ringkasnya, kita menyebutkan lima makna yang berbeda: qalb secara fisik, ruh secara fisik, nafs yang berkaitan dengan hal negatif (syahwat), pengetahuan, dan makna kelima adalah zat non-fisik tempat manusia memahami, dan mengetahui. Ketika Al-Quran dan sunnah menyebut kata qalb, maka yang dimaksudkan adalah kemampuan dalam diri manusia untuk memahami dan mengetahui hakikat sesuatu, yakni qalb non materi. Walau, kadang-kadang, ia juga bisa bermakna qalb fisik, karena di antara keduanya memang terdapat hubungan. Imam Al-Ghazali menggambarkan hubugannya dengan metafora: qalb fisik merupakan kerajaan dari qalb non-fisik.

Monday, April 12, 2021

Derajat Puasa

 Imam Al-Ghazali dalam Ihyâ’-nya membagi puasa menjadi tiga derajat:

1. Puasa umum (صوم العموم)

2. Puasa khusus (صوم الخصوص)

3. Puasa khusus dari yang paling khusus (صوم خصوص الخصوص)

Puasa pertama adalah menahan perut dan kemaluan dari hal-hal yang membatalkannya (makan, minum, berhubungan badan).

Puasa kedua adalah menahan pendengaran, pandangan, lisan, tangan, kaki, dan segala anggota badan dari dosa. Ini adalah derajat puasa orang-orang saleh. Derajat puasa ini lebih tinggi dibanding yang pertama

Puasa ketiga adalah menahan hati dan pikiran dari hal-hal yg rendah dan bersifat keduniaan, dan mengkhususkannya untuk Allah semata. Ini adalah derajat para Nabi, dan orang-orang yg dekat dengan Allah. Ini adalah derajat paling tinggi dalam puasa.

Ada enam hal yang bisa membuat kita mencapai derajat puasa kedua

1. Menundukkan dan menahan pandangan dari segala hal yang dicela syariat, serta menyibukkan hati untuk mengingat Allah

2. Menahan lisan dari berbicara yang tidak perlu, berbohong, ghibah, mengadu domba, bermusuhan, dan menyibukkannya untuk tilawah dan berdzikir

3. Menahan pendengaran dari mendengar hal yang dicela syariat. Terdapat kaidah: segala yang haram diucapkan, haram juga untuk didengar

4. Menahan tangan dan kaki dari segala yang dicela syariat, dan berbuka dengan makanan yang halal

5. Menahan dari makan dan minum berlebihan saat berbuka. Ruh dari puasa adalah "melemahkan kekuatan" dengan mengurangi makan dan minum karena banyaknya makan dan minum merupakan perantara setan mengantarkan kita pada keburukan dan syahwat. Ketika berbuka dengan berlebihan, kita menghilangkan esensi dari puasa itu sendiri.

6. Memposisikan hati di antara "takut" dan "harap" pada waktu berbuka. "Takut" jika Allah menolak puasanya dan "harap" agar Allah menerima puasanya. Hendaknya perasaan ini ada dalam setiap ibadah kita.

Referensi: Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn


Wednesday, January 20, 2021

Tingkat, dan Hakikat Syukur Menurut Imam al-Ghazali

Dalam kitabnya, Ihyâ 'Ulûm al-Dîn, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa syukur itu terbangun atas tiga hal: ilmu (العلم), keadaan (الحال), dan amal (العمل). Ilmu merupakan asal dari syukur, kemudian ia melahirkan keadaan, dan keadaan melahirkan amal. Ilmu yang dimaksud adalah pengetahuan bahwasanya nikmat itu berasal dari Zat yang memberi nikmat (المنعم). Keadaan yang dimaksud adalah rasa senang yang dihasilkan dari proses pemberian nikmat tersebut, dan amal yang dimaksud adalah perbuatan memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan maksud Zat yang memberi nikmat. Akan dijelaskan satu per satu asas dari syukur ini.

Ilmu

Yakni, ilmu atas tiga hal: mengetahui akan nikmat itu sendiri, bahwa pemberian nikmat merupakan hak Allah, dan mengetahui tentang Zat yang memberi nikmat.
Hal pertama yang harus kita pahami adalah bahwasanya segala hal yang ada di alam ini -termasuk segala nikmat yang kita rasakan- berasal dari Allah, dan Ia berkuasa atasnya. Ekspresi kesyukuran kita yang biasanya terungkapkan dengan ucapan "Alhamdulillah" tidak cukup sebatas bergeraknya lisan kita, namun wajib dengan pengetahuan, dan keyakinan dalam hati, bahwa segala puji bagi Allah yang telah memberikan segala nikmat atas kita, dan hal ini masuk ke dalam bab keimanan.

Pengetahuan atas hal ini seyogyanya tercetak dalam perbuatan kita sehari-hari. Ketika kita mendapat kemudahan apapun dari manusia, ketahuilah bahwa itu berasal dari Allah. Seseorang yang meyakini bahwa Allah pemberi segala nikmat tidak akan menyandarkan nikmat yang ia peroleh seakan-akan ia berasal dari manusia. Manusia hanya digerakkan oleh Allah untuk membantu kita.

Nabi Musa -'alaihi al-salam- berkata kepada Allah, "Ya Allah, engkau telah menciptakan Adam, dan engkau menggerakkan aku untuk melakukan sesuatu, maka bagaimana cara aku bersyukur kepadamu?" Allah menjawab, "Ketahuilah bahwa segalanya dari-Ku, dan pengetahuan akan hal itu merupakan bagian dari syukur."

Keadaan
Keadaan yang dimaksud adalah rasa bahagia atas Zat pemberi nikmat bersamaan dengan kekhusyukan, dan ketawadhuan. Adapun, syarat rasa bahagia yang terhitung sebagai bentuk syukur adalah ketika rasa bahagia itu muncul terhadap Zat pemberi nikmat, yakni Allah, bukan terhadap nikmatnya, atau atas proses pemberian nikmatnya. Imam al-Ghazali memberi contoh agar kita mudah memahami hal ini:

Ada seorang raja yang mengutus seseorang untuk pergi menjalankan tugas, kemudian raja memberinya kuda untuk membantunya berpergian. Maka, orang itu bisa bahagia dengan tiga macam bentuk:
Bentuk pertama: ia berbahagia karena zat kuda itu sendiri. Hanya karena kuda itu. Bahwa dengan kuda itu, ia bisa berpergian, bahwa ia merupakan harta benda yang bisa dinikmati. Seandainya suatu saat ia menemukan kuda itu di padang pasir, maka ia akan mengambilnya, dan bahagia karena kudanya.
Bentuk kedua: ia berbahagia bukan karena zat kudanya, namun kebahagiannya bersandar kepada pertolongan raja, bahwa raja tadi perhatian kepadanya. Jika ia menemukan kuda itu padang pasir, atau kuda itu diberikan oleh selain raja, maka ia tidak merasa bahagia, karena sebenarnya ia tidak butuh akan kuda tersebut, namun yang ia butuhkan adalah tempat di hati raja agar raja tersebut bisa memberinya kebahagian yang lainnya.
Bentuk ketiga: bahwa ia bahagia karena bisa menungganginya dalam rangka melayani rajanya, dan ia rela menanggung kesulitan perjalanan agar bisa dekat dengan raja. Hal yang terpenting baginya adalah dekat, dan diperhatikan oleh raja tersebut. Bahkan, jika ia memiliki kesempatan untuk menjadi seorang perdana menteri, dan disuruh memilih, antara jabatan perdana menteri, atau dekat dengan raja, maka ia pasti akan memilih dekat dengan raja.

Bentuk pertama tidak masuk ke dalam bentuk syukur. Ia seperti manusia yang bahagia akan sebuah nikmat, hanya karena zat nikmat itu sendiri. Ia bahagia dengan nikmat rumah, karena rumah itu sendiri. Hal ini jauh dari makna syukur.
Bentuk kedua masuk ke dalam bentuk syukur. Ia tidak menyandarkan kebahagiannya pada nikmat itu sendiri, namun ia telah menyandarkan kebahagiannya pada Zat pemberi nikmat, akan tetapi, bukan dari sisi Zatnya itu sendiri, namun dari sisi mengetahui bahwa pertolongan berasal dari-Nya, dan ia berharap diberikan nikmat lagi di masa depan. Ini adalah level orang-orang salih yang beribadah kepada Allah, bersyukur dalam rangka takut akan hukuman-Nya, dan berharap pahala-Nya.
Bentuk ketiga merupakan level tertinggi. Bahwa, ia bahagia atas nikmat tersebut, karena dengan nikmat tersebut ia bisa dekat dengan Allah, dan bisa melihat Allah selamanya. Ia bersedih jika diberi nikmat yang bisa melalaikannya dari mengingat Allah, dan ia tidak berbahagia dengan dunia kecuali bahwa dunia tersebut merupakan ladang bagi akhirat.

Imam asy-Syibli berkata, "Syukur itu ketika kita melihat kepada Zat yang memberi nikmat, bukan ketika melihat nikmat itu sendiri."

Amal
Amal berkaitan dengan tiga hal: hati, lisan, anggota tubuh. Adapun hati, hati yang bersyukur senantiasa meniatkan sesuatu yang baik. Lisan senantiasa mengucap sesuatu yang baik, dan ber-tahmid atas Allah (mengucap Alhamdulillah). Adapun anggota tubuh lainnya, berarti menggunakannya untuk ketaatan, dan tidak menggunakannya untuk perbuatan-perbuatan maksiat. Contoh syukur dengan mata: ketika kita menutupi aib orang lain yang kita lihat. Syukur dengan lisan yakni senantiasa memujinya, dan sebagainya. 
Bagaimana dengan orang yang mengeluh? Imam al-Ghazali menjelaskan, jika seseorang ditanya mengenai keadaanya, ada tiga bentuk orang: ia bersyukur, ia mengeluh, atau ia diam. Adapun syukur adalah ketaatan, dan mengeluh adalah bentuk kemaksiatan. Tingkat terendah yang seyogyanya dilakukan seorang hamba jika ia tidak bisa bersabar adalah mengarahkan keluhannya kepada Allah, karena Ia adalah zat yang bisa mengangkat segala ujian. Namun, bercerita kepada manusia tidaklah menjadi masalah, karena ia bagian dari kebutuhan yang manusiawi, walau tempat bercerita yang pertama, dan utama adalah Allah. Keluhan-keluhan yang menyalahkan Allah adalah bentuk yang dinilai sebagai maksiat.

 

Monday, November 30, 2020

Syarah al-Hikam Pasal 5: Tanda Tercabutnya Bashirah (Mata Hati)

 


"Kerja kerasmu pada hal-hal yang Allah telah jamin untukmu, dan pengabaianmu terhadap apa yang dituntut kepadamu, merupakan tanda tercabutnya bashirah dari dirimu"

Maksudnya, ketika seseorang sibuk, mati-matian mengejar hal yang (sebenarnya) sudah Allah jamin, yaitu rezeki, sesuai dengan surah hud: 6,

 ۞ وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّۭ فِى كِتَـٰبٍۢ مُّبِينٍۢ

"Tidak ada ciptaan yang berjalan di atas bumi kecuali telah Allah jamin rezekinya, Ia mengetahui tempat berdiam, dan berbaringnya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata"

lalu kemudian melupakan apa yang (sebenarnya) Allah tuntut bagi kita, yaitu ibadah, sesuai dengan al-baqarah: 21, "Wahai manusia sekalian! Sembahlah Tuhan kalian yang menciptakan kalian dan orang sebelum kalian agar kalian bertakwa"

Maka, itulah tanda dicabutnya basirah dari kita. Apa yang dimaksud bashirah? Ia adalah mata yang ada di hati kita yang dengan mata tersebut, kita mampu memahami hal-hal yang lebih bersifat maknawi, tak nampak, yang tidak bisa kita lihat menggunakan organ mata kita.

Adapun, jika kita bekerja keras pada pekerjaan yang halal, tanpa melupakan ibadah, maka hal itu masuk ke dalam hadits, "Barangsiapa yang terjaga dalam rangka mencari rezeki halal, maka ia terjaga dalam keadaan terampuni."

Artinya, sebenarnya keliru jika orang memisahkan kerja, dan ibadah. Hakikatnya kerja adalah ibadah. Namun, ketika kita tidak meluruskan niat kita dalam kerja (niat untuk mencari ridha Allah), lupa pada Allah dalam kerja kita, kewajiban-kewajiban ritual tertinggalkan, tidak peduli mana yang halal, dan haram, maka itulah kelalaian yang dimaksud.

Sumber: syarh al-hikam al-'athaiyyah


Thursday, November 26, 2020

Syarah al-Hikam Pasal 12: 'Uzlah Bermanfaat bagi Hati dan Pikiran

 


"Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi hati seperti menyendiri untuk masuk ke medan tafakkur"

'Uzlah kita bisa maknai sebagai menyendiri, menepi dari keramaian. Dalam kesendirian kita, hendaknya kita mulai berpikir mengenai ciptaan Allah di langit dan bumi, berpikir mengenai hakikat penciptaan kita, mengenai nikmat-nikmat yang telah Allah berikan pada kita. Kesendirian mengantarkan kita pada proses tafakkur (berpikir, merenungi).

Dalam sebuah hadits,

تفكر ساعة خير من عبادة سبعين سنة

Bertafakkur satu jam lebih baik daripada beribadah tujuh puluh tahun

Mengapa? Karena tafakkur mengantarkan kita pada pengenalan atas hakikat segala hal, dan dengannya, bertambah lagi pengenalan akan Allah. Dari sini, akan timbul rasa takut pada penyakit-penyakit hati, serta tipuan-tipuan dunia.

Imam Ahmad bin Sahl mengatakan, "Musuhmu ada empat: dunia, yang senjatanya adalah makhluk, sedang penjaranya adalah menyendiri,  syaithan, yang senjatanya adalah rasa kenyang, sedang penjaranya adalah rasa lapar, jiwa, yang senjatanya adalah tidur, sedang penjaranya adalah terjaga di mala hari, hawa nafsu, yang senjatanya adalah banyak bicara, sedang penjaranya adalah diam.

Realitas dunia kadang mengaburkan kejernihan hati kita, membuat pikiran kita sibuk membandingkan satu sama lain, itulah yang sekiranya dimaksud oleh Imam Ahmad bin Sahl. Kita mesti memenjarakan keduniawian itu dengan menyendiri, merenungi lagi hakikat kehidupan.

'Uzlah mungkin dilakukan dengan menyendiri secara hakiki, alias secara keberadaan, kita memang menyendiri dari orang lain, atau terkadang, dengan hati saja, alias secara keberadaan, kita masih bersama orang lain.

Sumber: syarah al-hikam al-'athaiyyah

Wednesday, November 25, 2020

Syarah al-Hikam Pasal 6: Jangan Putus Asa Karena Lambatnya Allah Mengabulkan Doa

 

"Jangan jadikan terlambatnya pemberian Allah walau sudah berdoa dengan keras alasan untuk berputus asa. Sungguh Allah telah menjamin untukmu pengabulan sesuai dengan yang Allah pilihkan untukmu, bukan yang engkau pilih atas dirimu sendiri, dan pada waktu yang Ia inginkan, bukan pada waktu yang engkau inginkan."

Mungkin kita pernah merasakan. Berdoa setiap waktu, namun apa yang kita harapkan tidak kunjung datang. Pertama, ketahuilah, bahwa Allah telah menjamin pengabulan doa. Allah yang telah berfirman dalam surah Ghafir ayat 60,

ادعوني أستجب لكم

Berdoalah kepadaKu, Aku akan kabulkan untuk kalian

Allah mengabulkan dengan apa yang Ia pilihkan untuk kita, bukan apa yang telah kita pilih, karena Ia yang lebih tahu mana yang baik bagi kita. Allah berfirman dalam al-Baqarah ayat 216,

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Termasuk waktu. Allah telah memilih waktu sesuai yang Ia inginkan. Maka bagi seorang hamba, hendaknya ia bersabar, dan tidak tergesa-gesa. Musa 'alaihissalam membutuhkan waktu empat puluh tahun ketika ia berdoa agar Allah binasakan harta Fir'aun dan Harun.

Dalam satu riwayat, jika seorang hamba berdoa kepada Allah, maka Jibril berkata, "Wahai Tuhan, penuhilah hajat Fulan, hambaMu", maka Allah berkata, "Biarkanlah hambaKu. Sungguh Aku mencintai untuk mendengar suaranya.", maka yakinlah, jika kita telah berdoa dan ikhtiar, Allah telah menyimpan kebaikan yang lebih untuk kita.

Sumber: syarh al-hikam al-'athaiyyah


Sunday, July 19, 2020

Hikmah #1 dari Kitab al-Hikam Karya Ibn Athaillah as-Sakandary


Menyelami lautan hikmah dari Ibnu Athaillah as-Sakandary
Hikmah pertama:


من علامة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

Merupakan tanda dari penyandaran diri pada amal: berkurangnya harapan pada Allah ketika kita melakukan dosa

Apa yang ada di pikiran kita ketika beramal salih? Apakah berharap Allah akan memasukkan kita ke dalam surga karenanya? Pernahkah kita merasa berpuas diri setelah melakukan suatu amal "besar"?

Jika begitu, apa makna hadits nabi berikut?
 
لن يدخل أحدكم الجنة عمله. قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: ولا أنا إلا يتغمدني الله برحمته
Tidak seorangpun masuk surga karena amalnya. (Para sahabat) bertanya: “bahkan engkau sekalipun wahai Rasulullah?” Bahkan aku, kecuali karena Allah melimpahkan rahmatnya kepadaku

Mungkin, ada yang berangganggan bahwa hubungan Allah dan hamba-Nya seperti hubungan penjual dan pembeli. Seorang penjual menetapkan harga atas barang, pembeli membayar sebesar harga tersebut, lalu ia memiliki barang yang ia beli. Hal ini kemudian disamakan dengan kondisi Allah memerintahkan dan melarang sesuatu, lalu seorang hamba mengerjakan perintah-Nya, kemudian hamba tersebut memperoleh surga sebagai ganti dari usaha menaati perintah-Nya. Persis seperti pembeli yang mendapatkan barang sebagai ganti harga yang telah ia bayar.

Pemahaman ini keliru karena amal bukan hal yang memasukkan kita ke surga, melainkan rahmat-Nya lah yang memasukkan kita ke surga. Maka, yang harus kita cari dan niatkan ketika beribadah adalah ridha-Nya, kemurahan, serta ampunan-Nya, bukan balasan yang disifati sebagaimana harga yang kita bayar untuk mendapat surga.

Dari hal tersebut, maka tidak boleh bagi kita untuk meyakini bahwa kita berhak terhadap surga Allah karena kita telah mengerjakan apa yang Ia perintahkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kita meyakini segala ibadah yang kita kerjakan merupakan hasil dari diri kita sendiri. Meyakini bahwa kita berhak akan surga karena amal kita seakan-akan kita mengatakan pada Allah: “Ini, saya telah melaksanakan perintahMu, maka berikan aku surga yang telah Engkau janjikan!”

Syaikh Ibrahim al-Laqqani dalam Jauharah at-Tauhid mengatakan:
فإن يثبنا فبمحض الفضل و إن يعذب فبمحض العدل
Jika Allah membalas kita dengan pahala, maka itu merupakan buah dari kemurahan-Nya, dan jika ia mengadzab, maka itu karena keadilan-Nya

Mari lihat apa yang Rabi’ah al-Adawiyah imani dalam ibadahnya untuk memudahkan kita dalam memahami bagaimana seharusnya kita beraqidah, ia berkata:

اللهم إني ما عبدتك حين عبدتك طمعا في جنتك و لا خوفا من نارك, و لكني علمت أنك رب تستحق العبادة فعبدتك
Ya Allah, sungguh aku tidaklah dikatakan menyembahmu ketika aku menyembahmu karena menginginkan surga dan takut akan neraka, akan tetapi sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau adalah Tuhan yang berhak untuk disembah, maka aku menyembahmu.

Sebagian orang mencela Rabi’ah al-Adawiyah dengan mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan surga -padahal, surga merupakan bagian dari janji Allah pada orang salih. Tuduhan ini sebenernya keliru. Rabi’ah al-Adawiyah juga berdoa meminta surga dan dijauhkan dari neraka kepada Allah, akan tetapi ia tidak memintanya sebagai balasan atas ibadahnya, namun ia meminta surga dan dijauhkan dari neraka karena Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah, dan ia merupakan hamba yang fakir dan menginginkan kemurahannya.

Apakah keyakinan bahwa kita masuk surga karena rahmat-Nya bertentangan dengan fakta bahwa Ia juga memerintahkan kita untuk beribadah kepadanya? Jawabannya adalah tidak, karena mengibadahi Allah merupakan hak-Nya sebagai Tuhan, dan kewajiban kita sebagai hamba, sedangkan surga, merupakan semata pemberian-Nya sesuai dengan sifat penyayang dan pengampun-Nya, dan kita pun tahu bahwa manusia yang paling utama dalam menerima rahmat-Nya, adalah ia yang paling banyak menunaikan hak-Nya.

Kembali kepada perkataan dari Ibnu Athaillah tadi, bahwa jika rasa harap kita kepada rahmat Allah menghilang ketika amalan kita sedang buruk dan kita sedang sering bermaksiat, maka itu merupakan tanda bahwa kita telah bersandar pada amalan kita -yang mana itu merupakan sebuah kesalahan. Sadarilah bahwa bukan amal kita yang memasukkan kita ke surga, namun rahmat-Nya, maka, jika kita merasa amal kita sedang buruk, teruslah berharap atas rahmat-Nya sembari berusaha memperbaikinya sebaik mungkin.
 
Referensi: Syarh al-Hikam al-'Athaiyyah karya Syaikh Sayyid Ramadhan al-Bouthi

Bunga Bank

  Mesir sedang mengalami keterpurukan ekonomi di bulan Maret 2022 ini. Nilai tukar mata uang Mesir, Egyptian Pound (EGP), terhadap dollar me...