Showing posts with label Tafsir. Show all posts
Showing posts with label Tafsir. Show all posts

Friday, April 16, 2021

Tafsir al-Baqarah:62 mengenai Iman dan Agama

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi'in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.

Ayat 62 dari surah al-Baqarah ini sering dijadikan dalil bagi sebagian orang mengenai pluralisme. Bahwasanya, setiap agama adalah sama, benar, dan diterima oleh Allah. Sekilas, zhahir ayat menunjukkan demikian. Namun, kita perlu melihat bagaimana para ulama menafsirkan ayat ini.

Asbabun Nuzul

Sebab turunnya ayat ini dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir, bahwa ayat ini turun mengenai kerabat Salman al-Farisi yang beragama Yahudi dan Nasrani. Salman berkata kepada Nabi, bahwa kerabatnya berpuasa, salat, dan bersaksi bahwa suatu saat akan ada Nabi yang diutus kepada mereka. Nabi menjawab, "Wahai Salman, sesungguhnya mereka termasuk ke dalam penduduk neraka," maka jawab tersebut terasa sangat berat bagi Salman, kemudian turunlah ayat ini.

Maksud dari istilah-istilah yang tersebut

Ibnu Katsir menjelaskan, yang dimaksud dengan هادوا pada ayat tersebut adalah kaum Yahudi, yakni mereka yang beriman kepada Nabi Musa dan berpegang pada Taurat, نصارى adalah kaum Nasrani, yakni mereka yang beriman dengan Nabi Isa dan berpegang pada Injil, dan mengenai الصائبين, ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang dimaksud. Ada pendapat yang mengatakan bahwa mereka berada di antara Majusi, Nasrani, dan Yahudi, dan mereka tidak memiliki agama tertentu. adh-Dhahak berkata bahwa mereka termasuk golongan ahlul kitab dan membaca kitab Zabur. Abdullah bin Wahab berkata bahwa mereka adalah orang yang tidak memiliki kitab, amalan, nabi, namun mereka mengakui tiada Tuhan selain Allah. Ibnu Katsir memilih pendapat bahwa mereka adalah orang yang tidak memiliki agama tertentu dan berada pada fitrahnya sendiri.

Makna Ayat

Tafsir al-Sa'di menjelaskan bahwa maksud ayat ini adalah menggambarkan keadaan sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ. Ibnu Katsir menjelaskan lagi, bahwasanya kaum Yahudi yang digambarkan sebagai golongan "yang mendapat pahala dari Tuhannya" adalah orang-orang yang beriman pada Nabi Musa dan Taurat sebelum diutusnya Nabi Isa. Ketika Nabi Isa diutus, maka berlakulah syariat Nabi Isa, maka pengikut Nabi Isa lah yang dimaksud dengan نصارى di atas dan mereka termasuk "golongan yang mendapat pahala dari Tuhannya" sampai diutus Nabi Muhammad. Setelah diutusnya Nabi Muhammad, hanya yang beriman kepada Nabi Muhammad lah yang termasuk golongan "yang mendapat pahala dari Tuhannya" tersebut.

Secara singkat, ayat ini ingin menggambarkan bahwa kaum terdahulu sebelum Nabi Muhammad diutus mendapat pahala dan diterima imannya berdasarkan syariat dari Nabi yang sedang turun, sedangkan, ketika Nabi Muhammad telah diutus, maka orang yang masih beragama Yahudi dan Nasrani tidak termasuk golongan "yang mendapat pahala dari Tuhannya", karena syariat Nabi Muhammad telah berlaku. Tafsir ini membantah kaum pluralis yang mengatakan bahwa setiap agama sama-sama benar dan diterima oleh Allah.

Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir as-Sa'di

Wednesday, March 10, 2021

Surah Al-Syarh: Setelah Ada Kesulitan, Ada Kemudahan



Surah Al-Insyirah merupakan salah satu surah yang dijadikan sebagian orang sebagai alat tuduhan kepada Nabi, yakni tuduhan yang menggugat sifat amanah (yakni salah satu sifat Nabi yang bermakna terjaga dari perbuatan dosa) pada Nabi.

Tuduhannya berasal dari ayat ke-2 (wawadha'nâ 'anka wizrak). Kata wizr dimaknai sebagian orang sebagai dzanbu, yakni dosa. Sehingga, makna ayat ini menjadi "Dan kami telah mengampuni dosamu," sehingga dari sini, Nabi ﷺ digambarkan pernah melakukan dosa sehingga ia butuh diampuni oleh Allah, dan hal ini membatalkan sifat amanah pada Nabi ﷺ. 

Kita perlu mempelajari asal dari surah ini untuk: 1) Membantah tuduhan tersebut, 2) Mengambil hikmah dari perjalanan Rasulullah ﷺ.

Surah ini mengisahkan tentang keadaan Rasulullah ﷺ ketika awal-awal masa dakwah, dan kenabian. Dikisahkan bahwa masa awal turunnya wahyu merupakan masa yang berat. Pertama, Rasulullah ﷺ belum terbiasa bertemu dengan malaikat. Pada pertemuan pertama kali, kita tahu kisah yang telah populer bahwa Rasulullah ﷺ pulang ke rumah dalam keadaan menggigil, dan meminta Sayyidah Khadijah menyelimutinya karena gugup bertemu malaikat pertama kali.

Tidak hanya itu, hal kedua adalah mengenai kesulitan yang juga terjadi dalam urusan dakwah. Begitu rusaknya keadaan masyarakat saat itu, dan banyaknya penolakan mereka membuat keadaannya berat bagi Nabi ﷺ. Berbagai hujatan, tekanan diterima Rasulullah ﷺ.

Kemudian, keadaan mulai berubah. Rasulullah ﷺ mulai terbiasa dengan turunnya malaikat. Dakwah pun pelan-pelan mulai diterima, dan berkembang. Keadaan ini seperti orang yang membawa beban yang berat di punggungnya, kemudian ia meletakkannya setelah sampai. Ketika ia membawa beban, ia akan merasakan rasa sakit, dan lelah. Namun, setelah ia letakkan bebannya, mulai hilang lah rasa sakit, dan lelah tersebut. 

Demikian juga yang Nabi ﷺ rasakan, merasa berat, dan lelah di awal, kemudian Allah gantikan rasa itu dengan kemudahan, dan istirahat. Demikian lah makna ayat tersebut, dan dengan memahami asal, serta makna dari surah ini, telah terbantahkan tuduhan akan sifat amanah pada Nabi. Kita juga dapat memahami sunnatullah dalam kehidupan bahwasanya ia berisi berbagai kesulitan. Namun, Allah juga letakkan kemudahan bersamanya.

Fa inna ma'a al-'usri yusran
(Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan)

Kemudian diulang lagi sebagai penguat pada ayat setelahnya

Inna ma'a al-'usri yusran
(Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan)

Referensi: al-Qoul al-Sadîd fi 'Ilmi al-Tauhîd

Sunday, December 13, 2020

Tafsir Al-Maidah 8-9: Bersikap Adil Kepada Siapapun

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang yang menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Adil lah! Karena adil itu lebih dekat dengan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Ia mengetahui apa yang kamu kerjakan

Ibnu katsir menerangkan, dalam menegakkan kebenaran, hendaknya seseorang melakukannya karena ridha Allah, bukan karena manusia, atau nama besar. Kemudian jadilah saksi dalam setiap urusan dengan adil.

Dalam sebuah riwayat, Nu'man bin Basyir pernah diberikan harta oleh ayahnya, kemudian ibunya berkata, "Aku tidak akan ridha, sampai kamu menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai saksinya". Kemudian ia datang kepada Rasulullah ﷺ, kemudian Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah kamu memberikan kepada anakmu yang lain hal yang serupa?" Ayahnya menjawab, "Tidak", Rasulullah ﷺ berkata, "Bertakwalah kepada Allah, dan berlaku adillah kepada anak-anak kalian!"

 ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا

Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil

Ibnu Katsir menjelaskan, dengan ini, maka kita wajib berlaku adil kepada setiap orang, baik ia merupakan musuh kita, ataupun kawan kita. Mengapa? Di kalimat setelahnya dijelaskan, karena adil itu lebih dekat dengan takwa.

واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون 

Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu lakukan

Maksudnya, Allah akan membalas setiap dari apa yang kita lakukan, jika keburukan, maka akan dibalas, begitu juga kebaikan. Ayat 9 memerinci hal ini.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۙ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal salih bahwa bagi mereka ampunan dan balasan yang besar

Yakni, ampunan atas dosa-dosa mereka, dan balasan berupa surga. Ibnu Katsir mejelaskan lagi, bahwa surga tidaklah diperoleh karena amal-amal manusia, melainkan karena rahmat, dan kemurahannya saja. Namun, sebab sampainya rahmat kepada kita, adalah melalui amal kita. Sehingga, yang perlu diyakini adalah bahwasanya amalan kita bukanlah yang memasukkan kita ke surga, tetapi Allah yang memasukkan kita. Namun, Allah membedakan orang yang beriman, dan beramal saleh dibandingkan dengan yang lain.

Sumber: Tafsir Ibn Katsir


Thursday, November 12, 2020

Keutamaan Surah al-Kahfi

Terdapat beberapa riwayat mengenai keutamaan Surah al-Kahfi dalam tafsir qurthuby:

Riwayat dari Muadz bin Jabal, bahwa Nabi berkata, "Barangsiapa yang membaca awal dan akhir surat al kahfi (10 ayat awal, dan 10 ayat akhir), maka baginya cahaya dari kepala hingga kakinya, barangsiapa yang membaca seluruhnya, maka baginya cahaya dari langit hingga bumi"

Disunnahkan untuk membaca surah al-Kahfi di hari Jumat dengan keutamaan demikian.

Suatu saat ada seorang pemuda berkata pada Ibnu Abbas, "Aku ingin mengerjakan salat malam, namun tidur menguasaiku", Ibnu Abbas berkata, "Jika kamu ingin bangun di waktu manapun yang kamu mau, maka saat sudah di tempat tidurmu, bacalah, 'law kana albahru midadan likalimati rabbi sampai akhir surat' (al kahfi: 109-110), maka Allah ta'ala akan membangunkanmu kapanpun kamu mau"

Menurut Ibnu Abbas, al-Kahfi memiliki keutamaan bagi kita yang ingin bangun di malam hari. 

Sumber: Tafsir Qurthuby 

Tuesday, November 3, 2020

Bagaimana Cara Melihat Allah di Akhirat? Tafsir QS Al-Kahfi:110

Apa surah yang paling sering dianjurkan untuk dibaca di hari Jumat? Ya, surah Al-Kahfi. Bagi saya pribadi, bagian yang paling berkesan dari surah ini ada di akhir halaman dari surah tersebut. Mari kita lihat bagaimana ahli tafsir menjelaskan ayat terakhir dari surah ini.

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS 18:110)

Imam Al-Qurthuby menjelaskan kalimat قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ (Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu) bahwasanya Rasulullah ﷺ tidak mengetahui sesuatu, kecuali apa-apa yang Allah telah ajarkan dengan ilmuNya, dan ilmu Allah tidaklah berbilang. Kemudian, Rasulullah ﷺ diperintahkan untuk mengajarkan kepada manusia bahwasanya tiada tuhan selain Allah (Laa ilaha illa Allah).

Imam Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa Allah mengajarkan Rasulullah ﷺ tentang tawadhu'. Seakan-akan, Rasulullah ﷺ mengakui bahwa Ia ﷺ adalah manusia seperti yang lain, akan tetapi Rasulullah ﷺ diberi kekhususan berupa turunnya wahyu kepadanya, dan Allah memuliakannya dengan wahyu tersebut.

Kemudian, pada ayat فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ (Maka barangsiapa yang berharap pertemuan dengan Tuhannya), Imam Qurthuby menjelaskan bahwa makna dari liqo (pertemuan) di sini adalah ru'yah (melihat dengan mata). Barangsiapa yang ingin melihat Allah, mendapat balasan kebaikan dariNya, dan takut atas siksaannya. Menurut saya pribadi, bagian ini yang paling menggetarkan dalam ayat ini. Ayat ini menjelaskan bahwa kita dapat melihat Allah secara langsung dengan mata kita. Maka, nikmat mana yang lebih indah dari hal tersebut? Bagaimana caranya?

Thawus berkata mengenai ayat فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا (Maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya), bahwa ada seorang lelaki yang berkata kepada Rasulullah ﷺ : "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku mencintai jihad di jalan Allah ta'ala, dan aku suka ketika kedudukanku terlihat (oleh orang lain)", maka ayat ini turun. Mujahid berkata bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah! Aku bersedekah, dan aku menyambung silaturahmi dan tidaklah aku melakukannya kecuali karena Allah ta'ala, dan ketika hal tersebut disebut-sebut, Ahmad takjub kepadaku, dan aku merasa senang karenanya.", maka Nabi ﷺ terdiam, dan Allah menurunkan ayat ini.

Pada intinya, penjelasan mengenai ayat tersebut berujung pada satu maksud, yaitu perintah untuk menjauhkan riya' dari ibadah. Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya, dua rukun agar amal kita diterima oleh Allah adalah amal itu ikhlas untuk Allah ta'ala, dan benar sesuai dengan syari'at Allah.

Sahl bin Abdullah meriwayatkan ketika Hasan ditanya mengenai ikhlas dan riya', ia berkata, "Merupakan bagian dari ikhlas ketika kamu suka untuk menyembunyikan amal-amalmu, dan kamu tidak suka untuk menyembunyikan keburukanmu, dan jika Allah menampakkan kebaikanmu (pada orang lain), kamu mengatakan pada Allah, "Semuanya berasal dari kemurahan dan kebaikan Engkau, dan kebaikan ini sejatinya bukanlah berasal dari perbuatanku sendiri", kemudian kamu mengingat ayat fal ya'mal 'amalan sholihan sampai akhir ayat, kemudian takut bahwa kebaikan tersebut tidak diterima oleh Allah, adapun riya' ialah menuntut bagian untuk diri di dunia dengan amalnya. Maka dikatakan, "bagaimana hal tersebut?", ia berkata, "Barangsiapa yang menghendaki dengan amalnya selain wajah Allah dan akhirat, maka itulah riya'."

Bunga Bank

  Mesir sedang mengalami keterpurukan ekonomi di bulan Maret 2022 ini. Nilai tukar mata uang Mesir, Egyptian Pound (EGP), terhadap dollar me...