Thursday, April 30, 2020

Serial Maqashid Syariah #1

Dewasa ini, Islam berhadapan dengan sebuah gelombang yang berusaha merusak hakikatnya. Gelombang ini mengencang terlebih sejak peristiwa 9/11 di Amerika. Upaya ini dalam rangka menjauhkan Islam dari kehidupan kaum muslimin.

Akan tetapi, kita juga mengakui, bahwasanya terdapat sebagian dari kaum muslimin yang “berpartisipasi” dalam perusakan hakikat Islam ini. Entah dengan sebagian perilaku orang-orang pandir yang merusak ajaran Islam melalui pemahaman yang keliru, atau dengan memberi contoh yang buruk.
Berkaca dari hal ini, terdapat urgensi untuk menjernihkan kembali hakikat Islam, dan menyingkap tujuan-tujuan syariat islam (maqashid syariah), dan tanggung jawab akan hal tersebut ada di pundak setiap manusia yang mampu untuk mengembannya dari para ‘ulama Islam, dan pemikirnya.
Serial ini akan membahas maqashid syariah melalui perspektif kitab maqashid Syariah wa dharurat at-Tajdid karya Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, anggota majlis kibar ‘ulama al azhar.

Bagian Pertama
Pandangan Pengantar
Di era kebodohan akan fikih islami dan syariat, para pembelajar syariat ini banyak yang menyibukkan diri terhadap perkara-perkara furu’(cabang), dan menjadikannya seakan-akan merupakan perkara yang tetap -padahal, ia merupakan perkara yang menerima perubahan-, dan hal ini diwujudkan dalam bentuk menutup pintu ijtihad, juga “mengkuduskan” pendapat para ‘ulama terdahulu.

Padahal, hal ini bertentangan dengan maksud dari para pendiri madzhab fikih itu sendiri. Mereka bermaksud untuk mengajarkan manusia cara berpikir yang lurus, dan bagaimana cara berinteraksi dengan sumber-sumber syariat Islam. Mereka berfokus pada manhaj berpikir.

Simaklah perkataan para imam madzhab dalam menggambarkan prinsip kita dalam berpikir dan berinteraksi dengan pendapat. Imam Syafii -rahimahullah- berkata,
رأينا صواب و يحتمل الخطأ و رأي غيرنا خطأ و يحتمل الصواب
Pendapat kami benar, tetapi berpotensi untuk mengandung kesalahan, dan pendapat selain kami salah, tetapi berpotensi untuk mengandung kebenaran

Imam Abu Hanifah -rahimahullah- berkata,
رأينا هذا هو أفضل ما قدرنا عليه, فمن جاءنا بأفضل منه قبلناه منه
Pendapat kami merupakan pendapat paling baik yang mampu kami utarakan, barangsiapa yang datang dengan pendapat yang lebih baik, maka kami menerimanya

Sedang, Imam Malik -rahimahullah- berkata,
كل إنسان يؤخذ من كلامه و يرد, ما عدا صاحب هذا القبر و أشار إلى قبر النبي ﷺ
Setiap perkataan manusia, dapat diambil, dan ditolak, kecuali perkataan pemilik kuburan ini (menunjuk kepada kuburan Rasulullah ﷺ)

Perkataan tersebut bukan berati mengisyaratkan kita untuk mudah dalam membantah pendapat para ‘ulama tanpa ilmu, namun perkataan itu mengisyaratkan sebuah konsep berpikir, bahwa perbedaan pendapat, perdebatan, serta ide pembaharuan dalam syariat merupakan hal-hal yang biasa dan dapat diterima.

Perkara yang menjadi perhatian ahli fikih terkait permasalahan ini adalah pentingnya perhatian terhadap hubungan sebuah fatwa syar’i dengan adat dan kebiasaan setiap tempat, serta kesesuaiannya dengan zamannya. Mengenai hal ini, ketiadaannya perhatian terhadap hal-hal tersebut, merupakan “penyakit” yang membahayakan terhadap maslahat menurut Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullah-. Ia berkata,
من أفتى الناس بمجرد النقول من الكتب على اختلاف أعرافهم و عوائدهم و أزمنتهم و أحوالهم فقد ضل و أضل و كانت جنايته على الدين
Barangsiapa yang berfatwa kepada manusia dengan hanya menukil dari kitab lalu menyelisihi adat dan kebiasaan mereka, serta tidak memperhatikan keadaan, maka sungguh ia sesat dan menyesatkan, dan perbuatannya termasuk kejahatan terhadap agama

Kemunduran cara berpikir ini memang telah mengakar pada pikiran mayoritas umat, dan hal ini mendorong pada kemunduran sebuah peradaban. Hal ini juga disebabkan oleh ketiadaan penggunaan akal dalam berpikir. Hal-hal tersebut ditandai dengan ketiadaan pembaharuan.

Padahal, menurut Dr. Mahmud, andai para imam madzhab tersebut hidup di zaman sekarang, sungguh kita akan temukan mereka menjadi yang paling pertama dalam menggagas pembaharuan yang memenuhi kebutuhan umat sesuai dengan zamannya, karena pembaharuan tersebut merupakan kodrat dari sebuah kehidupan.

Dari hal di atas, kita memahami pentingnya ijtihad yang merujuk kepada perkara ushul dan memahami maqashid syariah (tujuan-tujuan syariat), karena ia merupakan poros bagi perkara yang furu’ (bukan sebaliknya).

Maka, serial ini ingin memfokuskan pada perkara maqashid syariah, serta penekanan pada pentingnya menghubungkannya dengan perkara-perkara furu’, serta persoalan fikih, dan kemaslahatan umum.
Sesungguhnya agama diturunkan melalui perantara Rasulullah ﷺ untuk kemaslahatan hamba dalam perkara dunia dan agamanya. Imam Najmuddin at-Thusi berkata,
حيثما توجد المصلحة فثم شرع الله
Di manapun terdapat maslahat, di situlah terdapat syariat Allah

Maslahat yang dimaksudkan di sini bukanlah maslahat yang bersifat pribadi yang berasaskan hawa nafsu, namun ia merupakan maslahat yang membawa kebaikan pada seluruh manusia. Maslahat yang kita bicarakan di sini, haruslah sesuai dengan maqashid syariah, sehingga ia bisa jauh dari hawa nafsu dan syahwat, sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa Arab di jaman jahiliyyah yang berpandangan bahwa mengubur anak-anak perempuan, menghalangi perempuan dari warisan, dan meminum khamr merupakan maslahat.

Imam Ghazali dalam al-Mustashfa menjelaskan maksud dari maslahat di sini,
نعني بالمصلحة: المحافظة على مقصود الشرع. و مقصود الشرع من الخلق خمسة: و هو أن يحفظ دينهم, و نفسهم, و عقلهم, و نسلهم, و مالهم. و كل ما يتضمن حفظ هذه الأصول الخمسة فهو مصلحة, و كل ما يفوت هذه الأصول فهو مفسدة, و دفعه مصلحة
Yang kami maksudkan dengan maslahat ialah: penjagaan terhadap tujuan syariat, yaitu: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Setiap hal yang mencakup penjagaan terhadap hal-hal ini, maka ia merupakan maslahat, dan setiap yang meluputkannya, makai a merupakan kerusakan

Dengan ini, telah jelas mengenai apa yang dimaksud dengan istilah-istilah yang akan kita bahas lebih lanjut dalam serial maqashid syariah ini.

Friday, April 10, 2020

Think Positive

Ketika mulai mempelajari sesuatu, dan kita belum bisa melakukannya dengan baik, milikilah mindset, bahwa yang terpenting adalah kita mempelajari hal baru, kita telah bergerak, kompetensi kita meningkat -walau pelan-.
Mindset bahwa kita harus selalu menguasai sesuatu dengan sempurna, atau sebaik orang-orang lain, membuat kita merasa diri ini kecil, dan justru membuat proses belajar itu sendiri menjadi tidak bermakna. Mengapresiasi dan menghargai usaha sendiri adalah kunci.
Imam Syafii -rahimahullah- mengatakan,
لن تنال العلم إلا بستة: ذكاء، و حرص، و اجتهاد، و إرشاد أستاذ، و بلغة، و طول الزمان.
"Kalian tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dg 6 hal; kecerdasan, kemauan, kerja keras, bimbingan guru, bekal, dan PANJANGNYA WAKTU"

Jalan Hidup Kaum Sinis

Suatu hari, Diogenes, seorang filsuf dari Athena, sedang duduk di samping tongnya (yang mana itu juga merupakan tempat tinggalnya) sembari menikmati cahaya matahari. Alexander Agung, sang penakluk, maharaja dari Macedonia mendatanginya, dan bertanya, "apa yang kamu inginkan saat ini?", Diogenes menjawab, "minggirlah, kamu menghalangi sinar matahari."
Barangkali kita butuh menjadi seperti Diogenes (yang dalam aliran filsafat disebut sebagai kaum sinis), yang meyakini bahwa kebahagian sejati bukanlah berasal dari kelebihan² lahiriah seperti itu. Apakah perlu sampai menjadi seperti kaum sinis yang bahkan meyakini bahwa kita tidak perlu memikirkan kesehatan, bahkan kematian? Mungkin tidak. Tapi kesadaran akan jalan yang ternyata sederhana untuk bahagia, dan mensyukuri hal² kecil di sekitar kita mungkin bisa jadi nilai yang kita ambil

Prinsip Imam Syafi'i tentang Pendapat

Bagaimana seharusnya mindset kita dalam berpendapat dan menerima pendapat?
Ada prinsip yang luar biasa dari Imam Syafi'i:
رأينا صواب يحتمل الخطأ و رأي غيرنا خطأ و يحتمل الصواب
Pendapat saya benar, namun berpotensi untuk salah. Dan pendapat selain saya salah, namun berpotensi untuk benar
Setidaknya, ada dua hal yg bisa kita ambil dari prinsip tersebut:
1. Kita harus punya dasar yang kuat dalam setiap pendapat kita, sehingga kita betul yakin akan kebenaran pendapat kita
2. Namun, kita juga harus sadar bahwa mungkin saja kita salah. Karena pendapat orang lain yang kita pandang salah, bisa jadi lebih benar daripada pendapat kita
Hal ini yang menjauhkan kita dari sifat keras kepala, dan objektif dalam menerima kebenaran.

Filsafat dan Cinta

Bagaimana filsuf alam yunani memandang tentang keberadaan? Parmenides (540-480 SM) berpandangan bahwa segala sesuatu yang ada pasti telah selalu ada. Segala sesuatu itu ada dan tetap, tidak berubah dan membentuk apapun sama sekali. Bahkan lebih jauh, ia menafikan pengalaman empirisnya dalam melihat kenyataan yang terjadi di sekitarnya, dengan mengatakan bahwa indra-indranya yang menangkap sinyal perubahan itu merupakan ilusi.
Sedang Heraclitus, yang hidup sezaman dengan Parmenides berpandangan bahwa segala sesuatu senantiasa berubah. Hal apapun yang kamu lihat pada detik ke 1, akan menjadi berbeda ketika telah masuk detik ke 2, karena ia senantiasa mengalir dan berubah. Persepsi indra pun dapat ia terima dan diterima sebagai kenyataan, bukan ilusi seperti yang Parmenides katakan.
Kemudian datang filsuf yang mendamaikan pandangan mereka, Empedocles (490-430 SM). Ia bilang bahwa mereka berdua benar di satu sisi, dan salah di sisi lainnya. Empedocles mengatakan bahwa air memang tidak berubah, dia tetaplah menjadi air, tidak bisa berubah menjadi daun, tulang. Tapi persepsi indra yang muncul adalah nyata. Kenyataan bahwa indra kita melihat perubahan yang terjadi sehari-hari adalah sebuah kebenaran.
Gagasan utamanya adalah bahwa sesuatu itu terbentuk dari beberapa unsur. Sehingga ia menolak ide unsur tunggal (misal; air berubah jadi daun. Hal yang ia yakini adalah daun terdiri dari beberapa unsur). Apa unsur utama tersebut? Air, tanah, api, dan udara (jadi inget avatar). Unsur itu bisa bersatu dan berpisah untuk membentuk sesuatu.
Nah yang menarik, pertanyaannya kemudian, apakah yang bisa membuat unsur-unsur tersebut bersatu dan berpisah? Empedocles yakin ada dua kekuatan, cinta yang mengikat sesuatu, dan perselisihan yang memisahkannya. eak.
Saya gatau penerjemah melakukan tugasnya dengan baik atau nggak dalam menerjemahkan buku yang saya baca, tapi kalo diasumsikan itu sudah tepat, cinta nyatanya sudah dianggap menjadi sesuatu yang “membangun” sejak ribuan tahun yang lalu. Seakan Empedocles mengajarkan pada kita untuk senantiasa menumbuhkan dan menebarkan cinta jika ingin membangun sesuatu, bukan mengobarkan perselisihan.

Thursday, January 9, 2020

Kisah Seorang Arab dan Ilmu Nahwu

Suatu waktu, seorang Arab tiba di Madinah, dan berkata, “Siapa yang hendak membacakan kepadaku sesuatu yang telah Allah turunkan atas Muhammad (Quran)?”

Datang seorang laki-laki yang berkenan membacakan kepadanya sebuah surah, yakni surah At taubah, ketika tiba di ayat ke 3, ia membacanya:

 أَنَّ اللهَ بَرِيءٌ مِنَ المُشْرِكِيْنَ وَ رَسُوْلِه

Yaitu dengan meng-kasrah-kan huruf “lam” di lafadz “رسوله”.

Setelah itu, orang Arab itu berkata, “Jika Allah berlepas diri dari RasulNya, maka aku pun akan berlepas diri darinya (Rasulullah). Saat itu Sayyidina Umar lewat, lalu orang Arab tersebut memanggilnya dan menanyakannya tentang hal tersebut.

Sayyidina Umar berkata, "Bukan seperti itu”, lalu Umar membacakan ulang ayatnya,

أَنَّ اللهَ بَرِيءٌ مِنَ المُشْرِكِيْنَ وَ رَسُوْلُه

Yaitu, dengan mendhommahkan huruf “lam” pada lafadz “رسوله”. Seketika, orang Arab tersebut paham, dan berkata, “Dan aku pun juga berlepas diri dari siapapun yang Allah dan RasulNya telah berlepas diri darinya.”

تنبيه:
1. Orang Arab jahiliyyah memiliki pengetahuan akan bahasa Arab paling fasih, walau di jamannya, ilmu gramatika arab belum dibakukan seperti di jaman berikutnya. Mereka terbiasa berkata dengan bahasa arab fasih tanpa kesalahan dalam gramatika.

2. Di jaman dulu, Al-Quran tidak terdapat tanda baca, sehingga pembacanya harus faham ilmu gramatika bahasa Arab.

3. Ayat yang dibaca merupakan ayat ke 3 dari surah At Taubah, yang arti lengkapnya, “Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri terhadap orang-orang musyrik”

4. Kalau dibaca dengan cara pertama, artinya jadi, “Sesungguhnya Allah berlepas diri terhadap orang-orang musyrik dan RasulNya”

Serial Cinta #1

Seputar Cinta

Kata yang memiliki makna tak terkira. Dalam Bahasa arab sendiri, menurut Ibnul Qayyim dalam kitabnya raudhah almuhibbin wa nuzhah al musytaqin, kata cinta memiliki 60 nama. Ia bisa dinamai mahabbah, hubb, ‘alaqah, hawaa, dsb. Ibnul Qayyim menjelaskan definisi mahabbah sebagai “Hangat dan tenangnya hati atas hasrat akan pertemuan kepada zat yang dituju”.

Terdapat banyak pendapat mengenai asal kata cinta ini, di antaranya ada yang mengatakan bahwa kata cinta (hubb) diambil dari kata “gelisah” dan “gangguan”. Oleh karenanya, dalam Bahasa arab, anting-anting juga dinamai dengan kata hibb, karena ia “mengganggu” telinga.

Ada juga pendapat lain yang mengatakan kata cinta diambil dari kata habb (benih). Ia merupakan inti dari sesuatu, bagian yang paling murni dari sesuatu tersebut.

Pendapat lain mengatakan, kata cinta diambil dari kata hubb yang bisa bermakna wadah yang luas tempat mengisi sesuatu, yang ketika sesuatu itu penuh, ia tidak bisa diisi dengan selainnya. Karena, begitu juga sifat hati yang mencinta, ia tidak bisa diisi dengan sesuatu, selain yang dicinta.

Ada juga yang mengatakan, kata cinta diambil dari hubb yang bisa juga bermakna kayu penyanggah tempat diletakkan bejana di atasnya. Dinamakan demikian karena orang yang mencinta, mampu membawa beban-beban karena zat yang dicintanya. Masih banyak lagi pendapat mengenai asal kata cinta ini.

Apa batas dari kondisi cinta ini? Kapan ia dinamakan cinta? Terdapat banyak kembali pendapat soal ini. Ada yang mengatakan “ketika bersatunya tujuan antara orang yang mencinta dan dicinta”, ada yang mengatakan “ketika adanya pelayanan secara terus-menerus dengan penuh penghormatan kepadanya”, ada juga yang mengatakan, kondisi di mana “kamu mengurangi apa yang banyak dari dirimu untuknya, dan ketika ia memperbanyak apa yang sedikit dari dirimu”, ada juga yang mengatakan, “penjagaan atas batas-batas yang seharusnya”, sehingga tidaklah benar bagi ia yang mengatakan cinta akan tetapi tanpa penjagaan atas batas tersebut, dan masih banyak lagi.

Apa definisi batas atas cinta yang paling saya suka? Ia adalah apa yang didefinisikan sebagai “kehendak yang tidak berkurang oleh sikap antipati, dan tidak bertambah oleh kebaikan apapun
Rasulullah mengatakan dalam sebuah hadits, “hubbuka assyai’a yu’mi wa yushim” (rasa cintamu terhadap sesuatu, membuatmu buta dan tuli).

Begitulah seputar apa yang disebut dengan cinta, hanya ditinjau dari dua namanya, mahabbah dan hubb. Masih banyak hal yang belum mampu terkuak darinya. 

Itulah cinta, sumber energi yang menggerakkan, ketika ia disalurkan dengan cara yang ihsan, tetapi juga bisa menjadi energi yang melumpuhkan, jika ia tidak disikapi dengan kearifan dan kemuliaan.

Bunga Bank

  Mesir sedang mengalami keterpurukan ekonomi di bulan Maret 2022 ini. Nilai tukar mata uang Mesir, Egyptian Pound (EGP), terhadap dollar me...